RESUME BUKU: Perencanaan Pembelajaran (Dr. Rusydi Ananda, M.Pd)
RESUME BUKU
Judul :
Perencanaan Pembelajaran
Penulis : Dr. Rusydi
Ananda, M.Pd
Editor : Amiruddin,
M.Pd
Desain Sampul : Dhanu Nugroho Susanto
Tahun Terbit : 2019
Penerbit : Lembaga Peduli
Pengembangan Pendidikan Indonesia (LPPPI)
Alamat Penerbit : Jl. Seser Komplek Citra Mulia
Blok D. 14 Medan
Jumlah Halaman : iii + 315 halaman
BAB I PENDAHULUAN
Melaksanakan
pembelajaran di kelas diperlukan persiapan yang harus dilakukan guru, dalam hal
ini terkaitkan segala bentuk perencanaan yang telah dirancang terkait dengan
aktivitas yang akan dilakukan guru maupun siswa, penggunaan metode, sumber
belajar dan media yang digunakan di dalam membantu proses pembelajaran, dan tak
kalah pentingnya adalah menetapkan tujuan pembelajaran. Untuk itu semua maka
diperlukan perencanaan pembelajaran yang telah disiapkan sebelumnya oleh guru.
Menurut Uno (2008:4) urgensi dari perencanaan pembelajaran sebagai berikut:
1.
Untuk memperbaiki kualitas
pembelajaran perlu diawali dengan perencanaan pengajaaran yang diwujudkan
dengan adanya desain pembelajaran.
2.
Untuk merancang suatu pembelajaran
perlu menggunakan pendekatan sistem.
3.
Perencanaan desain pembelajaran
diacukan pada bagaimana seseorang belajar.
4.
Untuk merencanakan suatu desain
pembelajaran diacukan pada siswa secara perorangan.
5.
Pembelajaran yang dilakukan akan
bermuara pada ketercapaian tujuan pembelajaran, dalam hal ini aka nada tujuan
langsung pembelajaran dan tujuan pengiring dari pembelajaran.
6.
Sasaran akhir dari perencanaan desain pembelajaran
adalah mudahnya siswa untuk belajar.
7.
Perencanaan pembelajaran harus
melibatkan semua variabel pembelajaran.
8.
Perencanaan pembelajaran adalah
penetapan metode untuk mencapai tujuan.
Terdapat
beberapa prinsip perencanaan pembelajaran yang secara relatif berlaku umum diantaranya:
(1) prinsip perkembangan, (2) prinsip perbedaan individu, (3) prinsip minat dan
kebutuhan anak, dan (4) prinsip motivasi (Sagala, 2012:150). Selanjutnya
mengenai karakteristik perencanaan pembelajaranmenurut Sanjaya (2013:29)
sebagai berikut: Perencanaan pembelajaran merupakan hasil dari proses berpikir,
Perencanaan pembelajaran disusun untuk mengubah perilaku siswa sesuai dengan
tujuan yang ingin dicapai, dan Perencanaan pembelajaran berisi tentang rangkaian
kegiatan yang harus dilaksanakan untuk mencapai tujuan.
Manfaat
yang dirasakan guru dari perencanaan pembelajaranyang dilakukan adalah:
a.
Melalui proses perencanaan yang matang
maka akan terhindar dari keberhasilan yang bersifat untung-untungan.
b.
Sebagai alat untuk memecahkan masalah
c.
Untuk memanfaatkan berbagai sumber
belajar secara tepat
d.
Perencanaan akan dapat membuat
pembelajaran berlangsung secara sistematis
Perencanaan
pembelajaran dirancang bukan hanya sebagai pelengkap administrasi namun
dirancang sebagai bagian integral dari proses pekerjaan profesional, sehingga
berfungsi sebagai pedoman dalam pelaksanaan pembelajaran. menurut Sanjaya (2013:38)
kriteria penyusunan kriteria perencanaan pembelajaran meliputi: Signifikansi,
relevan, kepastian, adaptabilitas, kesederhanaan, dan prediktif
BAB
II MODEL PERENCANAAN PEMBELAJARAN
Model
Performance Based Teacher Education (PBTE) merupakan pengembangan program
pembelajaran yang dilaksanakan dengan pendekatan sistemik. Pendekatan ini
mempertimbangkan semua faktor dan komponen-komponen yang ada sehingga
pelaksanaan program akan berjalan secara efisien dan efektif (Hamalik,
2002:59).
Model perencanaan pembelajaran Dick & Carey memiliki komponen
dengan urutan-urutan tahapan-tahapan sistematis yang lengkap mulai dari analisis,
desain sampai evaluasi sehingga rancangan pembelajaran yang dihasilkan
merupakan upaya optimal yang sengaja di desain. Namun demikian model ini memiliki
keterbatasan karena merupakan sistem kerja yang melibatkan pembiayaan dan waktu
yang relative lebih, di samping itu memerlukan tim pengembang yang terdiri dari
expert di bidang materi, desain, media, grafis dan bahasa dan juga peserta
didik baik dalam uji one-toone evaluasi, small group maupun field trial.
Model
perencanaan pembelajaran Davies terdiri dari lima tahapan yang harus dilakukan
sedemikian rupa dan semuanya bagaikan komponen-komponen sistem yang terpadu
secara menyeluruh. Kelima tahapan tersebut adalah: (1) penetapan status sistem pembelajaran,
(2) perumusan tujuan pembelajaran, (3) perencanaan dan pelaksanaan evaluasi,
(4) pendeskripsian dan pengkajian tugas, dan (5) pelaksanaan prinsip-prinsip
belajar (Hamalik, 2002:66).
Model
desain sistem instruksional berorientasi pencapaian kompetensi (DSI-PK)
dikembangkan oleh Wina Sanjaya. Model DSI-PK adalah gambaran proses rancangan
sistematis tentang pengembangan pembelajaran baik mengenai proses maupun pembelajaran
yang sesuai dengan kebutuhan dalam upaya pencapaian kompetensi (Sanjaya,
2013:85). Prosedur pengembangan DSI-PK terdiri dari tiga bagian penting sebagai
berikut: 1. Analisis kebutuhan, 2. Pengembangan, 3. Pengembangan alat evaluasi.
Model
ASSURE merupakan suatu model untuk suatu kegiatan pembelajaran atau disebut
juga model berorientasi kelas. Menurut Smaldino, Lowther dan Russel, model ini
terdiri atas enam langkah kegiatan yaitu: (1) Analyze Learners, (2) States
Standard Objectives, (3) Select Strategies, Technology, Media, and Material,
(4) Utilize Technology, Media and Materials, (5)Require Learner participation,
(6) Evaluate and Revise (Smaldino dkk, 2008:86).
Model
pengembangan instruksional (MPI) ini dikembangkan oleh Atwi Suparman.
Langkah-langkah model desain pembelajaran MPI terdiri dari 10 tahapan sebagai
berikut: 1. Mengidentifikasi kebutuhan instruksional dan menuliskan tujuan
instruksional umum. 2. Melakukan analisis instruksional. 3. Mengidentifikasi
prilaku dan karakteristik awal peserta didik. 4. Menulis tujuan instruksional
khusus. 5. Menyusun alat penilaian hasil belajar. 6. Menyusun strategi
instruksional. 7. Mengembangkan bahan instruksional. 8. Menyusun desain dan
melaksanakan evaluasi formatif. 9. Sistem instruksional. 10. Implementasi,
evaluasi sumatif dan difusi inovasi.
BAB
III TUJUAN PEMBELAJARAN
Tujuan
pembelajaran berkaitan erat dengan hasil belajar yang akan mengarahkan kepada
sasaran yang akan dicapai siswa. Dalam hal ini hasil belajar yang dicapai dalam
bentuk pengetahuan, sikap dan psikomotorik. Menurut Sanjaya (2014:64) terdapat
4 (empat) alasan mengapa tujuan pembelajaran perlu dirumuskan sebagai berikut:
1.
Rumusan tujuan pembelajaran yang jelas
dapat digunakan untuk mengevaluasi efektivitas keberhasilan proses
pembelajaran.
2.
Tujuan pembelajaran dapat digunakan
sebagai pedoman dan panduan kegiatan belajar siswa.
3.
Tujuan pembelajaran dapat membantu
dalam mendesain sistem pembelajaran.
4.
Tujuan pembelajaran dapat digunakan
sebagai kontrol dalam menentukan batas-batas dan kualitas pembelajaran.
Manfaat
atau kegunaaan tujuan pembelajaran memungkinkan guru tahu secara tepat tingkah
laku siswa yang bagaimana yang diinginkan untuk berhasilnya suatu pelajaran.
Kemudian guru akan memilih metode mengajar yang tepat untuk keberhasilan siswa.
Tujuan pembelajaran juga membantu guru dalam mengevaluasi seperti membuat
pertanyaan tes secara langsung untuk tujuan mengajar mereka (Djiwandono, 2008:207).
Taksonomi
adalah ilmu yang mempelajari tentang klasifikasi. Dalam hal kaitannya dengan
tujuan pembelajaran, maka taksonomi tujuan pembelajaran adalah klasifikasi
tujuan pembelajaran berdasarkan domain pengetahuan, sikap dan ketrampilan yang diidentifikasi
dalam tiga domain yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik (Atherton dalam
Yaumi, 2013:88).
BAB IV MATERI
PEMBELAJARAN
Materi
pembelajaran adalah isi atau content yang harus dipelajari dan dikuasai siswa.
Dalam hal ini isi atau content tersebut diberikan kepada siswa sesuai dengan
kurikulum yang berlaku. Merril sebagaimana dikutip Sanjaya (2013:142) memaparkan
bahwa jenis materi pembelajaran dapat dikelompokkan pada empat kategori yaitu:
(1) fakta, (2) konsep, (3) prinsip dan (4) prosedur.
Selanjutnya
menurut Sudjana (2002:69) memaparkan hal-hal yang diperhatikan dalam menetapkan
materi pembelajaran sebagai berikut: Materi pembelajaran harus sesuai dengan
menunjang tercapainya tujuan, Materi pembelajaran yang ditulis dalam perencanaan
pengajaran terbatas pada konsep atau berbentuk garis besar bahan, tidak perlu
diuraikan terinci, Menetapkan bahan pengajaran harus sesuai dengan urutan
tujuan, Urutan bahan pengajaran hendaknya memperhatikan kesinambungan atau
kontinuitas, Materi pembelajaran disusun dari yang sederhana menuju yang
kompleks, dari yang mudah menuju yang sulit, dari yang konkret menuju yang
abstrak sehingga siswa mudah memahaminya, Sifat materi pembelajaran yang ada
faktual ada yang konseptual.
Materi
pembelajaran dapat ditemukan dari berbagai sumber seperti buku pelajaran,
majalah, jurnal, koran, internet, media audio visual, dan sebagainya. Materi
pembelajaranyang sudah ditentukan ruang lingkup serta kedalamannya dapat
diurutkan melalui dua pendekatan pokok yaitu:
1.
Pendekatan prosedural. Urutan materi
pembelajaran secara procedural menggambarkan langkah-langkah secara urut sesuai
dengan langkah-langkah melaksanakan suatau tugas.
2.
Pendekatan hirarkis. Pemaparaan materi
pembelajaran dengan pendekatan hirarkis merupakan cara atau teknik urutan
pemaparan materi pembelajaran secara berjenjang. Berbagai prinsip dasar yang
harus diperhatikan dalam pengembangan materi pembelajaran ajar yaitu: (a) kesesuaian
atau relevansi (b) keajegan atau konsistensi, dan (c) kecukupan atau adecuacy.
Langkah-langkah
pengembangan materi pembelajaran dilakukan sebagai berikut: a. Identifikasi
Kompetensi Dasar, b. Identifikasi Materi Ajar berdasarkan Ranah (Dimensi), c.
Menentukanmateri yang sesuai dengan Kompetensi Dasar.
BAB V METODE
PEMBELAJARAN
Metode
pembelajaran adalah cara-cara yang diambil oleh guru dalam menyajikan materi
ajar kepada siswa-siswa. Cara-cara yang diambil tersebut dengan menggunakan
cara yang terbaik untuk mencapai tujuan pembelajaran secara efektif dan
efisien. Dalam hal ini dasar pertimbangan pemilihan metode pembelajaran
tersebut menurut Djamarah (2005:229) sebagai berikut: Berpedoman pada tujuan, Perbedaan
individual anak didik, Kemampuan guru, Sifat bahan pelajaran, Situasi kelas,
Kelengkapan fasilitas, Kelebihan dan kelemahan metode.
Terdapat
beragam jenis metode pembelajaran namun dalam hal ini dipaparkan beberapa di
antaranya:
1. Metode ceramah adalah cara menyajikan pelajaran
melalui penuturan secara lisan atau penjelasan langsung kepada sekelompok
siswa.
2. Metode diskusi adalah metode
pembelajaran yang menghadapkan siswa pada suatu permasalahan.
3. Metode demonstrasI adalah metode
penyajian pelajaran dengan memperagakan dan mempertunjukkan kepada siswa
tentang suatu proses, situasi atau benda tertentu, baik sebenarnya atau hanya
sekedar tiruan.
4. Metode simulasi dapat diartikan cara penyajian
pengalaman belajar dengan menggunakan situasi tiruan untuk memahami tentang
konsep, prinsip atau keterampilan tertentu. Simulasi dapat digunakan sebagai metode
mengajar dengan asumsi tidak semua proses pembelajaran dapat dilakukan secara langsung
pada objek yang sebenarnya.
5. Metode tanya jawab ialah suatu cara
penyajian bahan pelajaran melalui bentuk pertanyaan yang
perlu
dijawab oleh anak didik.
6. Metode Eksperimen cara penyajian pelajaran
di mana siswa melakukan percobaan dengan mengalami dan membuktikan sendiri
sesuatu yang dipelajari.
7. Metode Resitasi metode penyajian bahan
di mana guru memberikan tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar.
8. Metode Karyawisata, metode mengajar
yang diterapkan guru dengan melaksanakan pembelajaran dilakukan di suatu tempat
atau objek tertentu di luar sekolah untuk mempelajari atau menyelidiki sesuatu
objek seperti meninjau perkebunan, pabrik, mengunjungi museum, kebun binatang dan
sebagainya.
9. Metode Induktif, berpedoman pada
urutan kegiatan yang bergerak dari hal yang bersifat khusus kepada yang umum.
10. Metode Deduktif, berpedoman pada urutan
kegiatan yang bergerak dari hal yang bersifat umum kepada yang khusus.
11. Metode Drill, dimaksudkan untuk memperoleh
ketangkasan atau ketrampilan latihan terhadap apa yang dipelajari karena hanya dengan
melakukan secara praktis suatu pengetahuan dapat disempurnakan dan
disiapsiagakan.
Proses
pembelajaran pada Kurikulum 2013 untuk semua jenjang dilaksanakan dengan
menggunakan pendekatan ilmiah (saintifik). Langkah-langkah pendekatan saintifik
(scientific appoach) dalam proses pembelajaran disajikan sebagai berikut (1)
mengamati, (2) menanya, (3) mengumpulkan informasi/eksplorasi, (4)mengasosiasikan/mengolah
informasi/menalar, dan (5) mengkomunikasikan.
BAB VI MEDIA
PEMBELAJARAN
Media
pembelajaran yaitu sarana atau alat yang digunakan (guru) dalam menyampaikan
materi pelajaran kepada siswa agar proses pembelajaran dapat mencapai tujuan
yang ingin dicapai, efektif, efisien dan berdaya tarik. Banyak para ahli
melakukan klasifikasi atau penggolongan media pembelajaran. Berikut ditampilkan
beberapa klasifikasi atau penggolonggan media yang penulis kutip dari beberapa
ahli.
1. Klasifikasi Kemp dan Dayton, mengklasifikasi
media pembelajaran ke dalam 8 (delapan) kelompok yaitu: (1) media cetakan, (2)
media pajang, (3) overhead tranparacies, (4) rekaman audiotape, (5) slide dan filmstrips,
(6) penyajian multi-image, (7) rekaman, video dan film hidup, dan (8) komputer
(Arsyad, 2000:37).
2. Klasifikasi Seels dan Glasgow Seels
dan Glasgow mengklasifikasikan media pembelajaran dilihat dari segi
perkembangan teknologi yang dibedakan atas dua kategori luas yaitu pilihan media
tradisional dan pilihan media teknologi mutakhir Arsyad (2000:33).
3. Klasifikasi Leshin, Pollock dan
Reigeluth Leshin, Pollock dan Reigeluth mengklasifikasikan media pembelajaran
ke dalam 5 (lima) kelompok yaitu: a. Media berbasis manusia, terdiri dari guru,
instruktur, tutor, main peran, kegiatan kelompok, field trip, b. Media berbasis
cetak, terdiri dari buku, penuntun, buku latihan (workbook), alat bantu kerja,
dan hand out, c. Media berbasis visual, terdiri dari buku, alat bantu kerja,
bagan, grafik, peta, gambar, transparansi, slide, d. Media berbasis audiovisual,terdiri
dari video, film, program, slide-tape, televise, e. .Media berbasis
komputer.Media berbasis komputer adalah pembelajaran dengan bantuan komputer,
interaktif video dan hypertext
4. Klasifikasi Seels dan Richey (1994)
melakukan klasifikasi media pembelajaran berdasarkan perkembangan teknologi
media itu sendiri. Dalam hal ini terdapat 4 (empat) klasifikasi media
pembelajaran yaitu: (1) media hasil teknologi cetak, (2) media hasil teknologi audiovisual,
(3) media hasil teknologi yang berdasarkan komputer, dan (4) media hasil
gabungan teknologi cetak dan komputer (Arsyad, 2000:29).
5. Klasifikasi Gerlach,dibagi menjadi 5
(lima) kategori yaitu: (1) benda-benda asli dan manusia, (2) gambar-gambar dan
gambar yang disorotkan, (3) benda-benda yang didengarkan, (4) bendabenda
cetakan,
dan (5) benda-benda yang dipamerkan (Rohani, 1997:13).
6. Klasifikasi Edgar Dale, mengklasifikasikan
media pembelajaran berdasarkan pengalaman belajar peserta didik yaitu yang
bersifat konkret sampai yang bersifat abstrak yaitu : (1) pengalaman melalui
lambang kata/verbal, (2) pengalaman melalui lambang visual seperti peta,
diagramm (3) pengalaman melalui gambar seperti foto, album (4) pengalaman
melalui rekaman, radio, gambar, (5) pengalaman melalui gambar hidup, (6) pengalaman
melalui televisi, (7) pengalaman melalui pameran, (8) pengalaman melalui studi
wisata, (9) pengalaman melalui kegiatan demonstrasi, (10) pengalaman melalui
dramatisasi,(11) pengalaman melalui model atau benda tiruan, dan (12) pengalaman
melalui pengalaman langsung bertujuan dan melakukan sendiri (Rohani, 1997:14).
7. Klasifikasi Hamijaya
mengklasifikasikan media pendidikan menurut penggunaannya, yaitu: (1) media pembelajaran
yang penggunaannya secara massal meliputi televisi, film slide, radio, (2)
media pembelajaran yang penggunaannya secara individual, dan (3) media pembelajaran
pada pendidikan modern (Rohani, 1997:11).
8.
Klasifikasi Bretz, mengklasifikaiskan
media pembelajaran ke dalam tujuan kelas, yaitu: (1) kelas I, Media audio – motion
– visual, (2) kelas II, Media audio – still – visual, (3) kelas III, Media
audio – semimotion, (4) kelas IV, Media motion – visual, (5) kelas V, Media
still – visual, (6) kelas VI Media audio, dan (7) kelas VII, Media yang menampilkan
simbol-simbol tertentu saja (Rohani, 1997:15).
Sadiman,
dkk (1996:98) menjelaskan urutan langkah-langkah yang harus diambil dalam pengembangan
media pembelajaran secara umum yaitu: (1) menganalisis kebutuhan dan
karakteristik siswa, (2) merumuskan tujuan instruksional dengan operasional dan
khas, (3) merumuskan butir-butir materi secara terperinci yang mendukung
tercapainya tujuan, (4) mengembangkan alat pengukur keberhasilan, (5) menuliskan
naskah media, dan (6) mengadakan tes dan revisi.
BAB VII
SUMBER BELAJAR
Sitepu
(2014:224) menjelaskan sumber belajar adalah segala sesuatu yang mengandung
informasi dan dapat dijadikan sebagai bahan pelajaran. Sumber belajar termasuk
pesan, orang, baahan, alat, prosedur dan lingkungan. Sumber belajar dapat
dibuat secara khusus untuk keperluan belajar atau tidak dibuat secara khusus untuk
keperluan belajar tetapi dapat dimanfaatkan untuk keperluan belajar.
Selanjutnya
Sitepu (2014: 42) memaparkan manfaat penggunaan sumber belajar dalam
pembelajaran sebagai berikut:
1.
Memberikan pengalaman pendidikan yang
baru kepada pemelajar dan pembelajar.
2.
Memberikan lebih banyak pilihan
kegiatan belajar kepada pemelajar.
3.
Memperbanyak dan memperluas sumber
informasi untuk belajar dan membelajarkan.
4. Memberikan kesempatan lebih banyak dan
intensig untuk berinteraksi antara sesame pemelajar serta antara pemelajar dan
pembelajar.
5.
Memberikan kesempatan lebih banyak
kepada pembelajar untuk memantau kegiatan belajar
pemelajar
secara individu.
6. Memberikan kesempatan belajar yang lebih luas kepada pemelajar.
Klasifikasi
sumber belajar diungkapkan oleh Ely sebagai berikut: (1) man yaitu pihak yang mentransmisikan
pesan, (2) media instrumentation yaitu media sebagai instrumen dalam menyampaikan
pesan, (3) technique atau teknik/prosedur dan (4) environment atau lingkungan.
Untuk
menggunakan sumber belajar yang dipergunakan dalam kegiatan pembelajaran maka terdapat
sejumlah kriteria pemilihan yang harus dipertimbangkan. Kriteria pemilihan
sumber belajar menurut Siregar dan Nara (2010:130) sebagai berikut: 1. Tujuan
yang ingin dicapai, 2. Ekonomis, 3. Praktis dan sederhana, 4. Mudah didapat, 5.
Fleksibel atau luwes.
BAB
VIII PENILAIAN HASIL BELAJAR
Penilaian
hasil belajar adalah suatu proses untuk mengambil keputusan dengan menggunakan informasi
yang diperoleh melalui pengukuran hasil belajar baik yang menggunaakan
instrumen tes (essay, tes objektif, dll) atau non tes (kuesioner, wawancara,
observasi, skala). Dalam hal ini penilaian hasil belajar dimaknai sebagai suatu
proses pembuatan keputusan nilai keberhasilan belajar.
Secara
umum penilaian hasil belajar bertujuan untuk melihat sejauhmana suatu program
pembelajaran dapat mencapai tujuan yang telah ditentukan. Secara spesifik tujuan
penilaian hasil belajar dijelaskan Reece dan Walker sebagaimana dikutip oleh
Aunurrahman (2011:209) sebagai berikut:
1.
Memperkuat kegiatan belajar.
2.
Menguji pemahaman dan kemampuan siswa.
3.
Memastikan pengetahuan prasyarat yang
sesuai.
4.
Mendukung terlaksananya kegiatan
pembelajaran.
5.
Memotivasi siswa.
6.
Memberi umpan balik bagi siswa.
7.
Memberi umpan balik bagi guru.
8.
Memelihara standar mutu.
9.
Mencapai kemajuan proses dan hasil
belajar.
10.
Memprediksi kinerja pembelajaran
selanjutnya.
11.
Menilai kualitas belajar.
Pada
kurikulum 2013, penilaian hasil belajar dilakukan oleh pendidik memiliki fungsi
untuk memantau kemajuan belajar, memantau hasil belajar, dan mendeteksi kebutuhan
perbaikan hasil belajar peserta didik secaraberkesinambungan. Berdasarkan
fungsinya penilaian hasil belajar oleh pendidik meliputi:
a.
Formatif yaitu memperbaiki kekurangan
hasil belajar pesertadidik dalam sikap, pengetahuan, dan keterampilan pada
setiapkegiatan penilaian selama proses pembelajaran dalam satusemester, sesuai dengan
prinsip Kurikulum 2013 agar peserta didik tahu, mampu dan mau.
b. Sumatif yaitu menentukan keberhasilan
belajar peserta didik pada akhir suatu semester, satu tahun pembelajaran, atau
masapendidikan di satuan pendidikan. Hasil dari penentuankeberhasilan ini digunakan
untuk menentukan nilai rapor,kenaikan kelas dan keberhasilan belajar satuan pendidikan
seorang peserta didik.
Teknik dan
instrumen yang dapat digunakan dalam kurikulum 2013 untuk menilai kompetensi
pada aspek sikap, keterampilan, dan pengetahuan.
1.
Penilaian Kompetensi Sikap
a.
Observasi
b.
Penilaian diri
c.
Penilaian teman sebaya
d.
Penilaian jurnal
2.
Penilaian Kompetensi
Pengetahuan
a.
Tes tertulis
b.
Observasi terhadap diskusi, tanya
jawab, dan percakapan
c.
Penugasan
3.
Penilaian Kompetensi Keterampilan
a.
Unjuk kerja/ kinerja/ praktik
b.
Projek
c.
Produk
d.
Portofolio
e.
tertulis

Komentar
Posting Komentar