RESUME BUKU: Perencanaan Pembelajaran (Dr. Rusydi Ananda, M.Pd)

 

https://www.cuapguru.com/2020/04/kekurangan-perencanaan-pembelajaran.html

RESUME BUKU

Judul                                   : Perencanaan Pembelajaran

Penulis                                : Dr. Rusydi Ananda, M.Pd

Editor                                  : Amiruddin, M.Pd

Desain Sampul                    : Dhanu Nugroho Susanto

Tahun Terbit                        : 2019

Penerbit                               : Lembaga Peduli Pengembangan Pendidikan Indonesia (LPPPI)

Alamat Penerbit                  : Jl. Seser Komplek Citra Mulia Blok D. 14 Medan

Jumlah Halaman                 : iii + 315 halaman

BAB I PENDAHULUAN 

Melaksanakan pembelajaran di kelas diperlukan persiapan yang harus dilakukan guru, dalam hal ini terkaitkan segala bentuk perencanaan yang telah dirancang terkait dengan aktivitas yang akan dilakukan guru maupun siswa, penggunaan metode, sumber belajar dan media yang digunakan di dalam membantu proses pembelajaran, dan tak kalah pentingnya adalah menetapkan tujuan pembelajaran. Untuk itu semua maka diperlukan perencanaan pembelajaran yang telah disiapkan sebelumnya oleh guru. Menurut Uno (2008:4) urgensi dari perencanaan pembelajaran sebagai berikut:

1.       Untuk memperbaiki kualitas pembelajaran perlu diawali dengan perencanaan pengajaaran yang diwujudkan dengan adanya desain pembelajaran.

2.       Untuk merancang suatu pembelajaran perlu menggunakan pendekatan sistem.

3.       Perencanaan desain pembelajaran diacukan pada bagaimana seseorang belajar.

4.       Untuk merencanakan suatu desain pembelajaran diacukan pada siswa secara perorangan.

5.       Pembelajaran yang dilakukan akan bermuara pada ketercapaian tujuan pembelajaran, dalam hal ini aka nada tujuan langsung pembelajaran dan tujuan pengiring dari pembelajaran.

6.       Sasaran akhir dari perencanaan desain pembelajaran adalah mudahnya siswa untuk belajar.

7.       Perencanaan pembelajaran harus melibatkan semua variabel pembelajaran.

8.       Perencanaan pembelajaran adalah penetapan metode untuk mencapai tujuan.

Terdapat beberapa prinsip perencanaan pembelajaran yang secara relatif berlaku umum diantaranya: (1) prinsip perkembangan, (2) prinsip perbedaan individu, (3) prinsip minat dan kebutuhan anak, dan (4) prinsip motivasi (Sagala, 2012:150). Selanjutnya mengenai karakteristik perencanaan pembelajaranmenurut Sanjaya (2013:29) sebagai berikut: Perencanaan pembelajaran merupakan hasil dari proses berpikir, Perencanaan pembelajaran disusun untuk mengubah perilaku siswa sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai, dan Perencanaan pembelajaran berisi tentang rangkaian kegiatan yang harus dilaksanakan untuk mencapai tujuan.

Manfaat yang dirasakan guru dari perencanaan pembelajaranyang dilakukan adalah:

a.       Melalui proses perencanaan yang matang maka akan terhindar dari keberhasilan yang bersifat untung-untungan.

b.      Sebagai alat untuk memecahkan masalah

c.       Untuk memanfaatkan berbagai sumber belajar secara tepat

d.      Perencanaan akan dapat membuat pembelajaran berlangsung secara sistematis

Perencanaan pembelajaran dirancang bukan hanya sebagai pelengkap administrasi namun dirancang sebagai bagian integral dari proses pekerjaan profesional, sehingga berfungsi sebagai pedoman dalam pelaksanaan pembelajaran. menurut Sanjaya (2013:38) kriteria penyusunan kriteria perencanaan pembelajaran meliputi: Signifikansi, relevan, kepastian, adaptabilitas, kesederhanaan, dan prediktif

 

BAB II MODEL PERENCANAAN PEMBELAJARAN

Model Performance Based Teacher Education (PBTE) merupakan pengembangan program pembelajaran yang dilaksanakan dengan pendekatan sistemik. Pendekatan ini mempertimbangkan semua faktor dan komponen-komponen yang ada sehingga pelaksanaan program akan berjalan secara efisien dan efektif (Hamalik, 2002:59).

Model perencanaan pembelajaran Dick & Carey memiliki komponen dengan urutan-urutan tahapan-tahapan sistematis yang lengkap mulai dari analisis, desain sampai evaluasi sehingga rancangan pembelajaran yang dihasilkan merupakan upaya optimal yang sengaja di desain. Namun demikian model ini memiliki keterbatasan karena merupakan sistem kerja yang melibatkan pembiayaan dan waktu yang relative lebih, di samping itu memerlukan tim pengembang yang terdiri dari expert di bidang materi, desain, media, grafis dan bahasa dan juga peserta didik baik dalam uji one-toone evaluasi, small group maupun field trial.

Model perencanaan pembelajaran Davies terdiri dari lima tahapan yang harus dilakukan sedemikian rupa dan semuanya bagaikan komponen-komponen sistem yang terpadu secara menyeluruh. Kelima tahapan tersebut adalah: (1) penetapan status sistem pembelajaran, (2) perumusan tujuan pembelajaran, (3) perencanaan dan pelaksanaan evaluasi, (4) pendeskripsian dan pengkajian tugas, dan (5) pelaksanaan prinsip-prinsip belajar (Hamalik, 2002:66).

Model desain sistem instruksional berorientasi pencapaian kompetensi (DSI-PK) dikembangkan oleh Wina Sanjaya. Model DSI-PK adalah gambaran proses rancangan sistematis tentang pengembangan pembelajaran baik mengenai proses maupun pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dalam upaya pencapaian kompetensi (Sanjaya, 2013:85). Prosedur pengembangan DSI-PK terdiri dari tiga bagian penting sebagai berikut: 1. Analisis kebutuhan, 2. Pengembangan, 3. Pengembangan alat evaluasi.

Model ASSURE merupakan suatu model untuk suatu kegiatan pembelajaran atau disebut juga model berorientasi kelas. Menurut Smaldino, Lowther dan Russel, model ini terdiri atas enam langkah kegiatan yaitu: (1) Analyze Learners, (2) States Standard Objectives, (3) Select Strategies, Technology, Media, and Material, (4) Utilize Technology, Media and Materials, (5)Require Learner participation, (6) Evaluate and Revise (Smaldino dkk, 2008:86).

Model pengembangan instruksional (MPI) ini dikembangkan oleh Atwi Suparman. Langkah-langkah model desain pembelajaran MPI terdiri dari 10 tahapan sebagai berikut: 1. Mengidentifikasi kebutuhan instruksional dan menuliskan tujuan instruksional umum. 2. Melakukan analisis instruksional. 3. Mengidentifikasi prilaku dan karakteristik awal peserta didik. 4. Menulis tujuan instruksional khusus. 5. Menyusun alat penilaian hasil belajar. 6. Menyusun strategi instruksional. 7. Mengembangkan bahan instruksional. 8. Menyusun desain dan melaksanakan evaluasi formatif. 9. Sistem instruksional. 10. Implementasi, evaluasi sumatif dan difusi inovasi.

 

BAB III TUJUAN PEMBELAJARAN

Tujuan pembelajaran berkaitan erat dengan hasil belajar yang akan mengarahkan kepada sasaran yang akan dicapai siswa. Dalam hal ini hasil belajar yang dicapai dalam bentuk pengetahuan, sikap dan psikomotorik. Menurut Sanjaya (2014:64) terdapat 4 (empat) alasan mengapa tujuan pembelajaran perlu dirumuskan sebagai berikut:

1.       Rumusan tujuan pembelajaran yang jelas dapat digunakan untuk mengevaluasi efektivitas keberhasilan proses pembelajaran.

2.       Tujuan pembelajaran dapat digunakan sebagai pedoman dan panduan kegiatan belajar siswa.

3.       Tujuan pembelajaran dapat membantu dalam mendesain sistem pembelajaran.

4.       Tujuan pembelajaran dapat digunakan sebagai kontrol dalam menentukan batas-batas dan kualitas pembelajaran.

Manfaat atau kegunaaan tujuan pembelajaran memungkinkan guru tahu secara tepat tingkah laku siswa yang bagaimana yang diinginkan untuk berhasilnya suatu pelajaran. Kemudian guru akan memilih metode mengajar yang tepat untuk keberhasilan siswa. Tujuan pembelajaran juga membantu guru dalam mengevaluasi seperti membuat pertanyaan tes secara langsung untuk tujuan mengajar mereka (Djiwandono, 2008:207).

Taksonomi adalah ilmu yang mempelajari tentang klasifikasi. Dalam hal kaitannya dengan tujuan pembelajaran, maka taksonomi tujuan pembelajaran adalah klasifikasi tujuan pembelajaran berdasarkan domain pengetahuan, sikap dan ketrampilan yang diidentifikasi dalam tiga domain yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik (Atherton dalam Yaumi, 2013:88).

 

BAB IV MATERI PEMBELAJARAN

Materi pembelajaran adalah isi atau content yang harus dipelajari dan dikuasai siswa. Dalam hal ini isi atau content tersebut diberikan kepada siswa sesuai dengan kurikulum yang berlaku. Merril sebagaimana dikutip Sanjaya (2013:142) memaparkan bahwa jenis materi pembelajaran dapat dikelompokkan pada empat kategori yaitu: (1) fakta, (2) konsep, (3) prinsip dan (4) prosedur.

Selanjutnya menurut Sudjana (2002:69) memaparkan hal-hal yang diperhatikan dalam menetapkan materi pembelajaran sebagai berikut: Materi pembelajaran harus sesuai dengan menunjang tercapainya tujuan, Materi pembelajaran yang ditulis dalam perencanaan pengajaran terbatas pada konsep atau berbentuk garis besar bahan, tidak perlu diuraikan terinci, Menetapkan bahan pengajaran harus sesuai dengan urutan tujuan, Urutan bahan pengajaran hendaknya memperhatikan kesinambungan atau kontinuitas, Materi pembelajaran disusun dari yang sederhana menuju yang kompleks, dari yang mudah menuju yang sulit, dari yang konkret menuju yang abstrak sehingga siswa mudah memahaminya, Sifat materi pembelajaran yang ada faktual ada yang konseptual.

Materi pembelajaran dapat ditemukan dari berbagai sumber seperti buku pelajaran, majalah, jurnal, koran, internet, media audio visual, dan sebagainya. Materi pembelajaranyang sudah ditentukan ruang lingkup serta kedalamannya dapat diurutkan melalui dua pendekatan pokok yaitu:

1.       Pendekatan prosedural. Urutan materi pembelajaran secara procedural menggambarkan langkah-langkah secara urut sesuai dengan langkah-langkah melaksanakan suatau tugas.

2.       Pendekatan hirarkis. Pemaparaan materi pembelajaran dengan pendekatan hirarkis merupakan cara atau teknik urutan pemaparan materi pembelajaran secara berjenjang. Berbagai prinsip dasar yang harus diperhatikan dalam pengembangan materi pembelajaran ajar yaitu: (a) kesesuaian atau relevansi (b) keajegan atau konsistensi, dan (c) kecukupan atau adecuacy.

Langkah-langkah pengembangan materi pembelajaran dilakukan sebagai berikut: a. Identifikasi Kompetensi Dasar, b. Identifikasi Materi Ajar berdasarkan Ranah (Dimensi), c. Menentukanmateri yang sesuai dengan Kompetensi Dasar.

 

BAB V METODE PEMBELAJARAN

Metode pembelajaran adalah cara-cara yang diambil oleh guru dalam menyajikan materi ajar kepada siswa-siswa. Cara-cara yang diambil tersebut dengan menggunakan cara yang terbaik untuk mencapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien. Dalam hal ini dasar pertimbangan pemilihan metode pembelajaran tersebut menurut Djamarah (2005:229) sebagai berikut: Berpedoman pada tujuan, Perbedaan individual anak didik, Kemampuan guru, Sifat bahan pelajaran, Situasi kelas, Kelengkapan fasilitas, Kelebihan dan kelemahan metode.

Terdapat beragam jenis metode pembelajaran namun dalam hal ini dipaparkan beberapa di antaranya:

1.    Metode ceramah adalah cara menyajikan pelajaran melalui penuturan secara lisan atau penjelasan langsung kepada sekelompok siswa.

2.     Metode diskusi adalah metode pembelajaran yang menghadapkan siswa pada suatu permasalahan.

3. Metode demonstrasI adalah metode penyajian pelajaran dengan memperagakan dan mempertunjukkan kepada siswa tentang suatu proses, situasi atau benda tertentu, baik sebenarnya atau hanya sekedar tiruan.

4.   Metode simulasi dapat diartikan cara penyajian pengalaman belajar dengan menggunakan situasi tiruan untuk memahami tentang konsep, prinsip atau keterampilan tertentu. Simulasi dapat digunakan sebagai metode mengajar dengan asumsi tidak semua proses pembelajaran dapat dilakukan secara langsung pada objek yang sebenarnya.

5.    Metode tanya jawab ialah suatu cara penyajian bahan pelajaran melalui bentuk pertanyaan yang

perlu dijawab oleh anak didik.

6.  Metode Eksperimen cara penyajian pelajaran di mana siswa melakukan percobaan dengan mengalami dan membuktikan sendiri sesuatu yang dipelajari.

7.   Metode Resitasi metode penyajian bahan di mana guru memberikan tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar.

8.    Metode Karyawisata, metode mengajar yang diterapkan guru dengan melaksanakan pembelajaran dilakukan di suatu tempat atau objek tertentu di luar sekolah untuk mempelajari atau menyelidiki sesuatu objek seperti meninjau perkebunan, pabrik, mengunjungi museum, kebun binatang dan sebagainya.

9.    Metode Induktif, berpedoman pada urutan kegiatan yang bergerak dari hal yang bersifat khusus kepada yang umum.

10.  Metode Deduktif, berpedoman pada urutan kegiatan yang bergerak dari hal yang bersifat umum kepada yang khusus.

11. Metode Drill, dimaksudkan untuk memperoleh ketangkasan atau ketrampilan latihan terhadap apa yang dipelajari karena hanya dengan melakukan secara praktis suatu pengetahuan dapat disempurnakan dan disiapsiagakan.

Proses pembelajaran pada Kurikulum 2013 untuk semua jenjang dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan ilmiah (saintifik). Langkah-langkah pendekatan saintifik (scientific appoach) dalam proses pembelajaran disajikan sebagai berikut (1) mengamati, (2) menanya, (3) mengumpulkan informasi/eksplorasi, (4)mengasosiasikan/mengolah informasi/menalar, dan (5) mengkomunikasikan.

 

BAB VI MEDIA PEMBELAJARAN

Media pembelajaran yaitu sarana atau alat yang digunakan (guru) dalam menyampaikan materi pelajaran kepada siswa agar proses pembelajaran dapat mencapai tujuan yang ingin dicapai, efektif, efisien dan berdaya tarik. Banyak para ahli melakukan klasifikasi atau penggolongan media pembelajaran. Berikut ditampilkan beberapa klasifikasi atau penggolonggan media yang penulis kutip dari beberapa ahli.

1.  Klasifikasi Kemp dan Dayton, mengklasifikasi media pembelajaran ke dalam 8 (delapan) kelompok yaitu: (1) media cetakan, (2) media pajang, (3) overhead tranparacies, (4) rekaman audiotape, (5) slide dan filmstrips, (6) penyajian multi-image, (7) rekaman, video dan film hidup, dan (8) komputer (Arsyad, 2000:37).

2.   Klasifikasi Seels dan Glasgow Seels dan Glasgow mengklasifikasikan media pembelajaran dilihat dari segi perkembangan teknologi yang dibedakan atas dua kategori luas yaitu pilihan media tradisional dan pilihan media teknologi mutakhir Arsyad (2000:33).

3.   Klasifikasi Leshin, Pollock dan Reigeluth Leshin, Pollock dan Reigeluth mengklasifikasikan media pembelajaran ke dalam 5 (lima) kelompok yaitu: a. Media berbasis manusia, terdiri dari guru, instruktur, tutor, main peran, kegiatan kelompok, field trip, b. Media berbasis cetak, terdiri dari buku, penuntun, buku latihan (workbook), alat bantu kerja, dan hand out, c. Media berbasis visual, terdiri dari buku, alat bantu kerja, bagan, grafik, peta, gambar, transparansi, slide, d. Media berbasis audiovisual,terdiri dari video, film, program, slide-tape, televise, e. .Media berbasis komputer.Media berbasis komputer adalah pembelajaran dengan bantuan komputer, interaktif video dan hypertext

4.  Klasifikasi Seels dan Richey (1994) melakukan klasifikasi media pembelajaran berdasarkan perkembangan teknologi media itu sendiri. Dalam hal ini terdapat 4 (empat) klasifikasi media pembelajaran yaitu: (1) media hasil teknologi cetak, (2) media hasil teknologi audiovisual, (3) media hasil teknologi yang berdasarkan komputer, dan (4) media hasil gabungan teknologi cetak dan komputer (Arsyad, 2000:29).

5.     Klasifikasi Gerlach,dibagi menjadi 5 (lima) kategori yaitu: (1) benda-benda asli dan manusia, (2) gambar-gambar dan gambar yang disorotkan, (3) benda-benda yang didengarkan, (4) bendabenda

cetakan, dan (5) benda-benda yang dipamerkan (Rohani, 1997:13).

6.     Klasifikasi Edgar Dale, mengklasifikasikan media pembelajaran berdasarkan pengalaman belajar peserta didik yaitu yang bersifat konkret sampai yang bersifat abstrak yaitu : (1) pengalaman melalui lambang kata/verbal, (2) pengalaman melalui lambang visual seperti peta, diagramm (3) pengalaman melalui gambar seperti foto, album (4) pengalaman melalui rekaman, radio, gambar, (5) pengalaman melalui gambar hidup, (6) pengalaman melalui televisi, (7) pengalaman melalui pameran, (8) pengalaman melalui studi wisata, (9) pengalaman melalui kegiatan demonstrasi, (10) pengalaman melalui dramatisasi,(11) pengalaman melalui model atau benda tiruan, dan (12) pengalaman melalui pengalaman langsung bertujuan dan melakukan sendiri (Rohani, 1997:14).

7.    Klasifikasi Hamijaya mengklasifikasikan media pendidikan menurut penggunaannya, yaitu: (1) media pembelajaran yang penggunaannya secara massal meliputi televisi, film slide, radio, (2) media pembelajaran yang penggunaannya secara individual, dan (3) media pembelajaran pada pendidikan modern (Rohani, 1997:11).

8.       Klasifikasi Bretz, mengklasifikaiskan media pembelajaran ke dalam tujuan kelas, yaitu: (1) kelas I, Media audio – motion – visual, (2) kelas II, Media audio – still – visual, (3) kelas III, Media audio – semimotion, (4) kelas IV, Media motion – visual, (5) kelas V, Media still – visual, (6) kelas VI Media audio, dan (7) kelas VII, Media yang menampilkan simbol-simbol tertentu saja (Rohani, 1997:15).

Sadiman, dkk (1996:98) menjelaskan urutan langkah-langkah yang harus diambil dalam pengembangan media pembelajaran secara umum yaitu: (1) menganalisis kebutuhan dan karakteristik siswa, (2) merumuskan tujuan instruksional dengan operasional dan khas, (3) merumuskan butir-butir materi secara terperinci yang mendukung tercapainya tujuan, (4) mengembangkan alat pengukur keberhasilan, (5) menuliskan naskah media, dan (6) mengadakan tes dan revisi.

 

BAB VII SUMBER BELAJAR

Sitepu (2014:224) menjelaskan sumber belajar adalah segala sesuatu yang mengandung informasi dan dapat dijadikan sebagai bahan pelajaran. Sumber belajar termasuk pesan, orang, baahan, alat, prosedur dan lingkungan. Sumber belajar dapat dibuat secara khusus untuk keperluan belajar atau tidak dibuat secara khusus untuk keperluan belajar tetapi dapat dimanfaatkan untuk keperluan belajar.

Selanjutnya Sitepu (2014: 42) memaparkan manfaat penggunaan sumber belajar dalam pembelajaran sebagai berikut:

1.       Memberikan pengalaman pendidikan yang baru kepada pemelajar dan pembelajar.

2.       Memberikan lebih banyak pilihan kegiatan belajar kepada pemelajar.

3.       Memperbanyak dan memperluas sumber informasi untuk belajar dan membelajarkan.

4.     Memberikan kesempatan lebih banyak dan intensig untuk berinteraksi antara sesame pemelajar serta antara pemelajar dan pembelajar.

5.       Memberikan kesempatan lebih banyak kepada pembelajar untuk memantau kegiatan belajar

pemelajar secara individu.

6.       Memberikan kesempatan belajar yang lebih luas kepada pemelajar.

Klasifikasi sumber belajar diungkapkan oleh Ely sebagai berikut: (1) man yaitu pihak yang mentransmisikan pesan, (2) media instrumentation yaitu media sebagai instrumen dalam menyampaikan pesan, (3) technique atau teknik/prosedur dan (4) environment atau lingkungan.

Untuk menggunakan sumber belajar yang dipergunakan dalam kegiatan pembelajaran maka terdapat sejumlah kriteria pemilihan yang harus dipertimbangkan. Kriteria pemilihan sumber belajar menurut Siregar dan Nara (2010:130) sebagai berikut: 1. Tujuan yang ingin dicapai, 2. Ekonomis, 3. Praktis dan sederhana, 4. Mudah didapat, 5. Fleksibel atau luwes.

 

BAB VIII PENILAIAN HASIL BELAJAR

Penilaian hasil belajar adalah suatu proses untuk mengambil keputusan dengan menggunakan informasi yang diperoleh melalui pengukuran hasil belajar baik yang menggunaakan instrumen tes (essay, tes objektif, dll) atau non tes (kuesioner, wawancara, observasi, skala). Dalam hal ini penilaian hasil belajar dimaknai sebagai suatu proses pembuatan keputusan nilai keberhasilan belajar.

Secara umum penilaian hasil belajar bertujuan untuk melihat sejauhmana suatu program pembelajaran dapat mencapai tujuan yang telah ditentukan. Secara spesifik tujuan penilaian hasil belajar dijelaskan Reece dan Walker sebagaimana dikutip oleh Aunurrahman (2011:209) sebagai berikut:

1.       Memperkuat kegiatan belajar.

2.       Menguji pemahaman dan kemampuan siswa.

3.       Memastikan pengetahuan prasyarat yang sesuai.

4.       Mendukung terlaksananya kegiatan pembelajaran.

5.       Memotivasi siswa.

6.       Memberi umpan balik bagi siswa.

7.       Memberi umpan balik bagi guru.

8.       Memelihara standar mutu.

9.       Mencapai kemajuan proses dan hasil belajar.

10.   Memprediksi kinerja pembelajaran selanjutnya.

11.   Menilai kualitas belajar.

Pada kurikulum 2013, penilaian hasil belajar dilakukan oleh pendidik memiliki fungsi untuk memantau kemajuan belajar, memantau hasil belajar, dan mendeteksi kebutuhan perbaikan hasil belajar peserta didik secaraberkesinambungan. Berdasarkan fungsinya penilaian hasil belajar oleh pendidik meliputi:

a.       Formatif yaitu memperbaiki kekurangan hasil belajar pesertadidik dalam sikap, pengetahuan, dan keterampilan pada setiapkegiatan penilaian selama proses pembelajaran dalam satusemester, sesuai dengan prinsip Kurikulum 2013 agar peserta didik tahu, mampu dan mau.

b.    Sumatif yaitu menentukan keberhasilan belajar peserta didik pada akhir suatu semester, satu tahun pembelajaran, atau masapendidikan di satuan pendidikan. Hasil dari penentuankeberhasilan ini digunakan untuk menentukan nilai rapor,kenaikan kelas dan keberhasilan belajar satuan pendidikan seorang peserta didik.

Teknik dan instrumen yang dapat digunakan dalam kurikulum 2013 untuk menilai kompetensi pada aspek sikap, keterampilan, dan pengetahuan.

1.    Penilaian Kompetensi Sikap

a.    Observasi

b.    Penilaian diri

c.     Penilaian teman sebaya

d.    Penilaian jurnal

2.    Penilaian Kompetensi Pengetahuan

a.    Tes tertulis

b.    Observasi terhadap diskusi, tanya jawab, dan percakapan

c.     Penugasan

3.    Penilaian Kompetensi Keterampilan

a.    Unjuk kerja/ kinerja/ praktik

b.    Projek

c.     Produk

d.    Portofolio

e.    tertulis

Komentar