Resume : Perencanaan Pembelajaran (Pengertian, Tujuan dan Prosedur)

 

https://pti.unimudasorong.ac.id/artikel/perencanaan-pembelajaran

RESUME

PERENCANAAN PEMBELAJARAN: PENGERTIAN, TUJUAN, DAN PROSEDUR

Oleh : Wahyudin Nur Nasution

Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyaah dan Keguruan (FITK)

UIN Sumatera Utara Medan

 

Kinerja mengajar berhubungan dengan kemampuan pendidik menjelaskan isi pelajaran, menghadapi peserta didik, membantu memecahkan masalah, mengelola kelas, menata bahan ajar, menentukan kegiatan kelas, menyusun evaluasi belajar, menentukan metode, media, atau bahkan menjawab pertanyaan dengan baik dan bijaksana. Untuk dapat melaksanakan hal-hal yang berkaitan dengan kinerja mengajar tersebut pendidik perlu menyiapkan perencananaan pembelajaran.

Gentry (1994) mengatakan perencanaan pembelajaran adalah suatu proses yang merumuskan dan menentukan tujuan pembelajaran, strategi, teknik, dan media agar tujuan pembelajaran umum tercapai. Perencanaan pembelajaran memiliki beberapa karakteristik. Pertama, perencanaan pembelajaran merupakan hasil dari proses berpikir. Kedua, perencanaan pembelajaran disusun untuk mengubah perilaku siswa sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Ketiga, perencanaan pembelajaran berisi tentang rangkaian kegiatan yang harus dilaksanakan untuk mencapai tujuan

Dari berbagai pendapat tersebut, maka dapat dikatakan bahwa perencanaan pembelajaran merupakan suatu pendekatan yang sistematis yang mencakup analisis kebutuhan pembelajaran, perumusan tujuan pembelajaran, pengembangan strategi pembelajaran, pengembangan bahan ajar, serta pengembangan alat evaluasinya dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan.

Upaya membuat perencanaan pembelajaran dimaksudkan agar dapat dicapai perbaikan pembelajaran. Melalui perbaikan pembelajaran ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran yang dilakukan oleh perancang pembelajaran. Perbaikan mutu pembelajaran haruslah diawali dari perbaikan perencanaan pembelajaran.

Selanjutnya, dalam mendesain pembelajaran perlu memilah hasil pembelajaran yang segera bisa diukur pencapaiannya (hasil langsung) dan hasil pembelajaran yang terbentuk secara kumulatif yang merupakan urunan dari sejumlah peristiwa pembelajaran (hasil pengiring).

Konsep pendekatan sistem merupakan dasar pemikiran dari suatu perencanaan pembelajaran. Secara umum pendekatan sistem terdiri atas analisis, desain, pengembangan, implementasi, danmevaluasi. Perencanaan pembelajaran mencakup seluruh proses yang dilaksanakan pada pendekatan sistem.

Gagne dan Briggs (1979) bahwa asumsi dasar perencanaan pembelajaran, yaitu: (1) harus bertujuan untuk membantu seorang belajar, (2) mencakup jangka panjang dan jangka pendek, (3) sistem pembelajaran yang dirancang secara sistematik dapat mempengaruhi perkembangan seseorang, (4) sistem pembelajaran harus dilaksanakan berdasarkan pendekatan sistem, (5) perlu didasarkan atas pengetahuan bagaimana manusia belajar.

Perancangan pembelajaran haruslah didasarkan pada hasil ldentifikasi dan analisis tentang semua variabel yang mempengaruhi belajar. Ada tiga variable yang mempengaruhi belajar, yaitu kondisi pembelajaran, metode pembelajaran, dan hasil pembelajaran.

Dalam menentukan metode pembelajaran ada tiga prinsip yang perlu diperhatikan, yaitu: (1) tidak ada satu metode pembelajaran yang unggul untuk semua tujuan dan semua kondisi, (2) metode pembelajaran yang berbeda memiliki pengaruh yang berbeda dan konsisten pada hasil pembelajaran, dan (3) kondisi pembelajaran yang berbeda memiliki pengaruh yang konsisten pada hasil pembelajaran.

Prosedur perencanaan pembelajaran ditentukan oleh model perencanaan pembelajaran yang dipilih. Hasil akhir dari perencanaan pembelajaran adalah suatu sistem pembelajaran, yaitu materi dan strategi belajar mengajar yang dikembangkan secara emperis yang secara konsisten terbukti dapat mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Ada beberapa model perencanaan pembelajaran, misalnya model Briggs, model Banathy, model Kemp, model Gerlach dan Ely, model Dick dan Carey dan masih banyak lagi model-model yang lain.

Salah satu model perencanaan pembelajaran yang dapat dipilih untuk meningkatkan kualitas pembelajaran adalah perencanaan pembelajaran adalah model Dick dan Carey. Prosedur perencanaan pembelajaran model Dick dan Carey adalah sebagai berikut:

Pertama, mengidentifikasi kebutuhan pembelajaran. Menurut Harless dalam melakukan identifikasi kebutuhan pembelajaran, ada tiga kelompok yang dijadikan sumber informasi, yaitu (a) siswa, terutama siswa yang telah bekerja, (b) masyarakat, termasuk orang tua, dan orang yang akan menggunakan lulusan, (c) pendidik, termasuk guru dan pengelola program pendidikan. Dari kegiatan mengidentifikasi kebutuhan pembelajaran diperoleh jenis pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang tidak pernah dipelajari atau belum dilakukan dengan baik oleh siswa.

Kedua, menganalisis pembelajaran. Proses ini bertujuan untuk mengetahui gambaran susunan perilaku khusus dari yang paling awal sampai yang paling akhir. Baik jumlah maupun susunan perilaku tersebut akan memberikan keyakinan kepada pendidik bahwa perilaku umum yang tercantum dalam TPU dapat dicapai secara efektif dan efisien. Dengan melakukan analisis pembelajaran akan tercipta suatu struktur perilaku dari perilaku khusus yang ada dalam kandungan TPU/TIU. Struktur perilaku tersebut digolongkan empat macam: (a) struktur hirarki, (b) struktur prosedural, (c) struktur pengelompokan, (d) struktur kombinasi.

Ketiga, mengidentifikasi perilaku dan karakteristik awal peserta didik. Kemampuan peserta didik yang ada dalam kelas selalu heterogen, sebagian siswa sudah banyak tahu sebagian lagi belum tahu sama sekali tentang materi yang diajarkan di kelas berdasarkan perilaku-perilaku khusus yang ada. Untuk mengatasi hal ini, ada dua pendekatan yang dapat dipilih, yaitu siswa menyesuaikan dengan materi pembelajaran dan materi pembelajaran disesuaikan dengan siswa. Setelah diketahui siswa yang menjadi populasi sasaran kegiatan pembelajaran, hal yang perlu dipertanyakan, adalah sejauhmana pengetahuan dan keterampilan yang telah dimiliki mereka sehingga dapat mengikuti pembelajaran?

Teknik yang digunakan untuk mengidentifikasi perilaku awal siswa dapat digunakan kuesioner, interview, observasi, dan tes. Hasil akhir dari kegiatan mengidentifikasi perilaku awal siswa adalah menentukan garis batas antara perilaku yang tidak perlu diajarkan dan perilaku yang harus diajarkan kepada siswa. Perilaku yang diajarkan ini kemudian dirumuskan dalam bentuk tujuan pembelajaran khusus (TPK). Selain mengidentifikasi perilaku awal siswa, pendidik harus pula mengidentifikasi karakteristik siswa yang berhubungan dengan pengembangan pembelajaran.

Keempat, menulis tujuan kinerja atau tujuan pembelajaran khusus (TPK). Dalam menentukan isi pelajaran yang akan diajarkan, pengembang pembelajaran merumuskannya berdasarkan perilaku yang ada dalam TPK. Tujuan pembelajaran menjadi arah proses pengembangan pembelajaran karena di dalamnya tercantum rumusan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang akan dicapai siswa pada akhir proses pembelajaran

Kelima, mengembangkan Butir Tes Acuan Patokan. senada dengan pendapat Uno bahwa tes acuan patokan terdiri atas soal-soal yang secara langsung dapat digunakan untuk mengukur seperangkat tujuan pembelajaran khusus yang telah dirumuskan. Untuk menyusun butir tes acuan patokan, pendidik perlu melakukan langkah-langkah berikut: (1) menentukan maksud tes, yaitu: memberikan umpan balik tentang hasil belajar siswa dalam setiap tahap proses belajarnya dan menilai efektifitas sistem pembelajaran secara keseluruhan, (2) Membuat tabel spesifikasi yang memuat: daftar perilaku, bobot perilaku, jenis tes, dan jumlah butir tes, (3) Menulis butir tes sesuai table spesifikasi, (4) Merakit tes yang telah ditulis dan dikelompokkan atas dasar jenis kemudian diberi nomor urut, (5) Menulis petunjuk menjawab tes sesuai jenisnya, (6) Menulis kunci jawaban tes, (7) Mengujicobakan tes, (8) Menganalisis hasil uji coba, dan (9) Merevisi tes.30

Keenam, mengembangkan strategi pembelajaran. Dick dan Carey mengatakan suatu strategi pembelajaran menjelaskan komponen-komponen umum dari suatu set bahan pembelajaran dan prosedurprosedur yang akan digunakan bersama bahan-bahan tersebut untuk menghasilkan hasil belajar tertentu pada siswa. Komponen dari strategi pembelajaran, yaitu: (1) kegiatan pra pembelajaran; (2) penyajian informasi; (3) partisipasi siswa; (4) tes; (5) kegiatan tindak lanjut.

Ketujuh, mengembangkan bahan ajar.Bahan ajar merupakan bahan-bahan atau materi pembelajaran yang disusun secara sistematis yang digunakan gurumdan siswa dalam proses pembelajaran, bahan ajar mempunyai sturuktur dan urutan yang sistematis, menjelaskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai, memotivasi siswa untuk belajar, mengantisipasi kesukaran belaajr siswa sehingga menyediakan bimbingan bagi siswa untuk mempelajari bahan tersebut, memberikan latihan yang banyak bagi siswa, menyediakan rangkuman dan secara umum berorientasi pada siswa secara individual. Secara umum ada tiga cara yang dapat ditempuh untuk menyusun bahan ajar, yaitu: (1) menulis sendiri, (2) pengemasan kembali informasi, dan (3) penataan informasi.

Kedelapan, malaksanakan evaluasi formatif dan sumatif. Menurut Suparman, evaluasi formatif adalah proses menyediakan dan menggunakan informasi untuk dijadikan dasar pengambilan keputusan dalam rangka peningkatan kualitas produk atau program pembelajaran. Evaluasi formatif bertujuan untuk menentukan apa yang harus ditingkatkan atau direvisi agar produk tersebut lebih efektif dan efisien. Idealnya, evaluasi formatif dilakukan empat tahap, yaitu (1) review oleh ahli bidang studi, ahli desain, ahli media, dan ahli bahasa di luar dari tim pengembang pembelajaran tersebut. (2) evaluasi satu satu dilakukan antara pengembang pembelajaran dengan dua atau tiga siswa secara individual. Siswa yang dipilih adalah yang memiliki karakteristik seperti populasi sasaran. (3) evaluasi kelompok kecil siswa yang representative untuk mewakili populasi sasaran yang sebenarnya sebanyak 8-12 orang. (4) ujicoba lapangan kepada sejumlah 15-30 orang siswa sepanjang telah mempunyai ciri yang sama atau mirip dengan populasi sasaran. Setelah pelaksanaan pembelajaran selesai, maka dilakukanlah tahap evaluasi sumatif untuk melihat keberhasilan siswa terhadap produk sistem pembelajaran yang diterapkan

Komentar